Indikator Moving Average

Moving average (MA) adalah salah indikator yang berguna untuk “memperhalus” pergerakan harga. MA mencari rata-rata harga penutupan dari sebuah currency pair untuk periode tertentu.

Ada dua jenis moving average yang biasa digunakan oleh para trader, yakni simple moving average, serta exponential moving average.

Simple Moving Average

Simple moving average (SMA) adalah jenis MA yang paling sederhana di analisis forex. Perhitungan SMA pun terbilang sederhana. Jika anda memasukkan angka 5 di kolom period di time frame 1 jam (H1), maka indikator akan menjumlahkan lima harga penutupan terakhir, lalu hasilnya dibagi 5.

Perlu diketahui bahwa kinerja SMA sifatnya tertunda. Anda hanya bisa melihat pergerakan umum yang sudah terjadi dan kemungkinan arah pergerakan harga berikutnya. Namun, MA tidak akan bisa memberikan kepastian ke mana harga akan bergerak.

Indikator MA memberikan kita pandangan yang lebih luas mengenai kondisi pasar forex dibandingkan dengan pergerakan harga yang sedang terjadi saat ini. Dengan ini, kita bisa mengukur ke manakah pergerakan yang akan terjadi berikutnya.

Kekurangan dari SMA yakni sangat mudah dipengaruhi oleh pergerakan harga yang terjadi secara tiba-tiba, seperti misalnya saat pengumuman berita penting. Pergerakan yang tiba-tiba ini sangat mungkin memberikan sinyal palsu kepada para trader.

Exponential Moving Average

Dibandingkan dengan SMA, exponential moving average (EMA) tidak mudah dipengaruhi oleh pergerakan harga yang tiba-tiba. Sebagai contoh, jika kita menggunakan 10 SMA untuk time frame H1, maka indikator akan mencari rata-rata harga penutupan 10 candlestick terakhir.

Indikator Moving Average

Jika di salah satu candlestick terjadi lonjakan harga, maka keseluruhan nilai SMA akan naik dan mengakibatkan kita mendapatkan sinyal yang tidak akurat. Namun dengan menggunakan EMA, kita akan mendapatkan sinyal yang lebih akurat dikarenakan EMA lebih menitikberatkan pada pergerakan harga yang lebih baru dibandingkan dengan pergerakan harga rata-rata.

Bisa dilihat pada gambar di atas garis biru (EMA) selalu bergerak lebih dekat dengan candlestick dibandingkan dengan garis merah (SMA). Hal ini berarti EMA lebih merepresentasikan pergerakan harga terbaru dan memberikan penekanan kepada apa yang baru saja terjadi.

SMA vs EMA

Sampai di sini, mungkin anda akan bertanya, manakah indikator MA yang lebih baik? Jawabannya tergantung dari anda sendiri sebenarnya. Jika anda menginginkan indikator yang bereaksi lebih cepat terhadap pergerakan harga, seperti misalnya di awal-awal trend, maka EMA adalah pilihan yang tepat.

Dengan EMA anda bisa mendeteksi trend lebih awal dan pastinya keuntungan yang anda dapatkan akan lebih banyak dibandingkan dengan mereka yang menunggu konfirmasi akan adanya trend.

Kekurangan dari EMA adalah sinyal yang kurang akurat pada saat pasar sedang konsolidasi. Dikarenakan indikator bereaksi dengan cepat terhadap perubahan harga, anda mungkin beranggapan bahwa trend sedang terbentuk, padahal yang terjadi hanyalah lonjakan harga.

Namun jika anda ingin membaca arah trend yang sedang terjadi, maka SMA dengan periode yang panjanglah yang paling tepat untuk anda. Meskipun SMA bereaksi dengan lambat terhadap pergerakan harga, anda bisa terhindari dari lonjakan harga yang terjadi tiba-tiba. Kekurangan SMA adalah anda mungkin akan ketinggalan momen yang penting saat sedang terjadi trend yang mungkin bisa memberikan anda banyak keuntungan.

Ada juga trader yang menggunakan SMA dan EMA secara berbarengan untuk memberikan gambaran yang lebih luas mengenai apa yang sedang terjadi di pasar forex. SMA dengan periode yang panjang digunakan untuk membaca trend harga, sedangkan EMA digunakan untuk mencari kapan waktu yang tepat untuk masuk ke pasar.

Info lebih detail tentang penggunaan MA, anda bisa akses pada Buku 3 Trend Line Simple Profit dalam halaman Member Gold. Info detail klik halaman Join Us.