Indikator Fundamental Yang Menggerakkan Harga

Setiap minggu ada puluhan data indikator fundamental ekonomi dan indeks survey yang dirilis di berbagai situs. Mana yang paling berpengaruh di pasar forex?

Banyak diantara data yang dirilis tersebut tidak mempengaruhi pergerakan harga di pasar forex, atau sangat kecil pengaruhnya.

Sebagai trader, tentu kita ingin fokus pada indikator fundamental yang berdampak signifikan pada pergerakan harga pasar guna antisipasi dalam membuka posisi, atau mungkin menghindar dari pasar untuk mencegah terkena loncatan harga (slippage).

Indikator fundamental yang bisa menggerakkan pasar forex umumnya adalah yang berhubungan dengan data tenaga kerja, inflasi, aktivitas konsumen dan aktivitas investor. Seringkali sebuah indikator bisa memprediksi atau memberi konfirmasi pada indikator yang lain, misalnya Gross Domestic Product (GDP) dan inflasi.

Pasar akan bereaksi jika rilis data berbeda dengan prediksi atau konsensus analis. Berikut beberapa indikator fundamental penting tersebut:   Data Tenaga Kerja: Non Farm Payrolls dan Unemployment Rate.

Non Farm Payrolls

Banyak ekonom berpendapat bahwa ketersediaan lapangan pekerjaan dan jumlah tenaga kerja adalah indikator utama untuk mengetahui sehat atau sakitnya perekonomian suatu negara. Di Amerika Serikat, Biro Statistik Tenaga Kerja (US Bureau of Labor and Statistics) setiap bulan merilis data tentang tenaga kerja yang meliputi Non Farm Payrolls (NFP) dan Unemployment Rate (tingkat pengangguran).

NFP mengukur perubahan jumlah tenaga kerja pada periode bulan sebelumnya diluar industri pertanian. Data yang dirilis tiap hari Jum’at minggu pertama ini termasuk indikator yang bersifat leading bagi indikator consumer spending (pengeluaran konsumen), consumer confidence (kepercayaan konsumen) dan consumer sentiment, yang mencerminkan kesehatan ekonomi secara keseluruhan.

Karena faktor konsumen menentukan hampir 70% dari aktivitas perekonomian AS, rilis data dari Biro statistik tenaga kerja AS ini selalu ditunggu oleh pelaku pasar dan analis. Dampak pada pergerakan pasar pun besar, baik pasar saham atau forex.

Bertambah atau berkurangnya lapangan pekerjaan dan jumlah tenaga kerja akan berpengaruh langsung pada keadaan perekonomian. Misalnya, berkurangnya jumlah tenaga kerja bisa diartikan makin susutnya pendapatan sektor bisnis dan industri.

Jika banyak orang yang kehilangan pekerjaan, mereka tidak bisa membeli barang atau produk yang dihasilkan oleh sektor industri hingga mengurangi pendapatan sektor ini. Karena Amerika Serikat adalah negara yang terbesar perekonomiannya dan paling berpengaruh di dunia, maka rilis data NFP AS jauh lebih berdampak pada pasar dibandingkan rilis NFP Perancis misalnya.

Unemployment Rate

Data Unemployment Rate (tingkat pengangguran) di AS dirilis oleh Biro Statistik Tenaga kerja bersamaan dengan NFP. Data ini mengukur jumlah tenaga kerja yang menganggur (tidak bekerja) dan sedang aktif mencari pekerjaan pada periode bulan sebelumnya.

Walaupun Unemployment Rate adalah indikator yang bersifat lagging, tetapi jumlah tenaga kerja yang menganggur akan mempengaruhi tingkat pengeluaran konsumen dan berdampak pada pendapatan sektor bisnis dan industri juga.

Data Mengenai Inflasi: CPI, PPI dan Tingkat Suku Bunga Diantara rilis data Consumer Price Index (CPI), Producer Price Index (PPI) dan tingkat suku bunga, indikator fundamental yang paling berdampak pada pasar adalah suku bunga.

Tingkat suku bunga merupakan output dari dua indikator fundamental sebelumnya yang mengukur laju inflasi. Bank sentral menentukan tingkat suku bunga berdasarkan indikator indeks harga konsumen (CPI) dan produsen (PPI).

Kebijakan moneter bank sentral ini biasanya diumumkan tiap bulan, dan akan sangat berdampak langsung pada pergerakan pasar forex jika tingkat suku bunga yang dirilis berbeda dengan yang diharapkan para pelaku pasar dan analis.

Berbeda dengan dampak rilis data NFP AS, pengumuman tingkat suku bunga akan berdampak pada semua mata uang utama yang mengalami perubahan suku bunga (EUR, JPY, GBP, CHF, AUD, CAD dan NZD), tidak hanya US dollar.

Bahkan kadang pergerakan harga pasar akibat tingkat suku bunga ini bisa melebihi dampak akibat rilis data NFP AS, seperti yang pernah terjadi pada GBP beberapa tahun lalu. Data Consumer Price Index (CPI) yang berdampak pada pasar adalah Core CPI atau CPI inti, yaitu indeks harga konsumen diluar sektor makanan dan energi. 

Bank sentral dan trader biasanya mengacu pada CPI inti untuk mengantisipasi perubahan tingkat suku bunga. Perubahan CPI yang cukup signifikan mencerminkan laju inflasi yang tinggi hingga bisa berpengaruh pada reaksi bank sentral dalam menentukan tingkat suku bunga.

Producer Price Index (PPI) adalah indikator leading untuk tingkat inflasi. Jika produser menaikkan harga produk dan jasa, maka akan berpengaruh langsung pada tingkat pengeluaran konsumen dan tingkat kenaikan harga barang secara keseluruhan.

Jika data PPI dirilis sebelum CPI, biasanya akan berpengaruh langsung pada CPI yang pada akhirnya bisa mempengaruhi bank sentral dalam menentukan suku bunga. Selain CPI dan PPI, para pelaku pasar biasanya juga mencermati harga komoditi yang bisa berdampak pada kenaikan harga barang dan jasa, seperti misalnya harga minyak mentah dunia.

Beberapa tahun terakhir, volatilitas harga minyak dunia sangat mempengaruhi aktivitas perekonomian di berbagai negara industri maju.

Kenaikan harga minyak akan berdampak langsung pada biaya produksi yang tentunya berakibat pada kenaikan harga produk yang dihasilkan dan jasa transportasi. Hal ini akan berdampak pada kenaikan tingkat laju inflasi.

Indikator Fundamental Mengenai Aktivitas Konsumen

Perubahan tingkat aktivitas konsumen akan berdampak langsung pada keuntungan produsen dan juga tingkat harga barang. Ada beberapa cara untuk mengukur tingkat aktivitas konsumen, salah satu yang paling populer adalah dengan mengukur tingkat kepercayaan konsumen (Consumer Confidence).

Di Amerika Serikat tingkat kepercayaan konsumen dilakukan melalui survey oleh Conference Board (sebuah lembaga non-profit) terhadap 5000 rumah tangga mengenai kondisi perekonomian dan bisnis saat ini. 

Consumer Confidence juga merupakan indikator leading untuk tingkat pengeluaran konsumen yang mencerminkan aktivitas perekonomian secara keseluruhan. Tingkat kepercayaan konsumen juga bisa dilihat dari indikator retail sales yang mengukur hasil penjualan produk retail pada suatu periode tertentu, tetapi Consumer Confidence lebih bersifat jangka panjang.

Selain retail sales, data-data tentang kondisi pasar perumahan juga bisa digunakan sebagai indikator tingkat kepercayaan konsumen.  

Indikator Fundamental Mengenai Aktivitas Investor

Seperti halnya tingkat aktivitas konsumen, tingkat aktivitas investor juga akan berdampak langsung pada aktivitas perekonomian secara keseluruhan, dan bisa diukur dengan tingkat kepercayaan investor atau sentimen bisnis.

Sentimen bisnis yang tinggi menggambarkan tingkat kepercayaan investor untuk menggerakkan roda perekonomian, menciptakan lapangan kerja dan berujung pada meningkatnya pertumbuhan ekonomi.

Beberapa lembaga survey dan bank sentral melakukan survey pada sejumlah investor dan pelaku manufaktur mengenai prospek perekonomian, yang dirilis dalam sebuah angka indeks kepercayaan.

Beberapa indikator tingkat kepercayaan investor yang dirilis setiap bulan oleh lembaga survey dan bank sentral yang mempengaruhi pasar antara lain:

  • Philly Fed Manufacturing Index atau Philadelphia Fed Business Outlook Survey (Amerika Serikat)
  • ISM Manufacturing PMI (Amerika Serikat), dan Manufacturing PMI dari Markit (Inggris)
  • ZEW (Zentrum fur Europaische Wirtschaftsforschung) Economic Sentiment (Jerman) Ifo (Information and Forschung)
  • Business Climate (Jerman)
  • Sentix Investor Confidence (Uni Eropa)
  • SVME (Schweizerischer Verband fur Materialwirtschaft und Einkauf)
  • PMI (Swiss)
  • NAB (National Australia Bank)
  • Business Confidence (Australia)
  • Tankan Manufacturing Index (Jepang), dirilis setiap kwartal.